Kajian harga tanah
Harga Tanah Samarinda, Kota Tepian Mahakam
Samarinda adalah ibu kota Kalimantan Timur yang selama lima tahun terakhir hidup di bawah bayangan dua peristiwa besar: tersambungnya jalan tol Balikpapan–Samarinda dan penetapan Ibu Kota Nusantara di provinsi yang sama. Dalam periode itu, tanah di koridor jalan utamanya naik rata-rata 56% secara nominal, setara pertumbuhan majemuk ±9,2% per tahun. Koridor termahal di pusat kota sudah menembus Rp1
Ringkasan eksekutif
Samarinda adalah ibu kota Kalimantan Timur yang selama lima tahun terakhir hidup di bawah bayangan dua peristiwa besar: tersambungnya jalan tol Balikpapan–Samarinda dan penetapan Ibu Kota Nusantara di provinsi yang sama. Dalam periode itu, tanah di koridor jalan utamanya naik rata-rata 56% secara nominal, setara pertumbuhan majemuk ±9,2% per tahun. Koridor termahal di pusat kota sudah menembus Rp16–32 juta per m² — sekelas kota besar Jawa.
Temuan utama kajian ini:
- Pusat kota mahal, bahkan di atas NJOP. Harga penawaran di Jl. Pahlawan mencapai lebih dari Rp26 juta per m² untuk lahan berizin komersial, dan di kawasan Alaya satu penawaran lahan besar justru mengiklankan harga Rp8 juta per m² sebagai "di bawah NJOP Rp11,3 juta". Samarinda termasuk sedikit kota dalam seri ini di mana NJOP bisa melampaui harga penawaran lahan skala besar.
- Tol dan IKN mengangkat sisi selatan dan timur. Poros Palaran menuju gerbang Tol Balikpapan–Samarinda tumbuh 12,2% per tahun, disusul Jl. Sambutan (11,4%) dan Poros Samarinda–Bontang (11,1%). Keduanya menangkap limpahan kegiatan logistik dan hunian pekerja proyek di kawasan IKN.
- Bekas tambang dan banjir menjadi penahan. Samarinda adalah kota dengan jejak tambang batu bara di dalam wilayah administrasinya, dan beberapa kawasan masih rawan banjir saat hujan besar. Iklan tanah di kota ini hampir selalu mencantumkan "bebas banjir" sebagai keunggulan utama — sinyal jelas bahwa risiko itu dihargai pasar.
- Membangun di Samarinda termurah se-Kaltim. Indeks kemahalan konstruksi 107,38 poin — tertinggi dibanding sebagian besar kota dalam seri ini, tetapi paling rendah di antara sepuluh kabupaten/kota di Kalimantan Timur, di bawah Balikpapan (113,21) dan jauh di bawah Mahakam Hulu (139,05).
Sepuluh kecamatan di dua sisi Mahakam
Kota Samarinda terbentang di kedua sisi Sungai Mahakam dan terdiri atas sepuluh kecamatan. Sisi utara memuat pusat pemerintahan provinsi, kota lama, dan kawasan komersial utama — Samarinda Kota, Ilir, dan Ulu — serta perluasan permukiman ke Sungai Pinang, Samarinda Utara, dan Sambutan. Sisi selatan — Samarinda Seberang, Loa Janan Ilir, dan Palaran — terhubung lewat Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahkota II, dan menjadi pintu keluar menuju tol Balikpapan–Samarinda serta kawasan IKN.
Gambar 1. Peta skematis sebaran estimasi harga tanah Agustus 2026. Gelembung = koridor muka jalan (kode sesuai Tabel 2); kotak = tanah lingkungan per kelurahan, angka dalam Rp juta/m², skala warna logaritmik. Sungai, batas kecamatan, dan jalan digambar ulang secara skematis — bukan peta kadastral, peta rawan banjir, atau ZNT resmi.
Tol, IKN, dan kota sungai
Perjalanan harga tanah Samarinda 2021–2026 mengikuti tiga babak: tertahan pandemi (2021), lonjakan tol dan IKN (2022–2024), lalu pelandaian (2025–2026). Linimasa berikut merangkum peristiwa yang paling berpengaruh.
Tol tersambung penuh 2021 Jalan tol Balikpapan–Samarinda beroperasi penuh hingga Samarinda, memangkas waktu tempuh antarkota secara drastis. Di tengah pandemi, dampaknya baru terasa pada koridor selatan. Kenaikan ±7,3%.
Undang-undang IKN 2022 Penetapan Ibu Kota Nusantara melalui undang-undang memicu gelombang pembelian di seluruh Kalimantan Timur. Samarinda, sebagai ibu kota provinsi dengan infrastruktur paling lengkap, ikut terangkat. Kenaikan rata-rata ±11,6%.
Pekerja proyek dan investor 2023 Pembangunan IKN menarik ribuan pekerja dan kontraktor; sebagian memilih Samarinda sebagai basis. Permintaan kos, rumah sewa, dan gudang meningkat. Kenaikan ±10,7%.
Penataan tepian Mahakam 2024 Penataan kawasan tepian sungai dan pusat kota memperkuat nilai koridor inti. Perumahan baru menyebar ke Sungai Pinang, Sempaja, dan Sambutan. Kenaikan ±9,2%.
Biaya bangun naik tipis 2025 Indeks kemahalan konstruksi Samarinda 107,38 poin — naik 0,17 poin setahun dan 5,15 poin dalam lima tahun — tetapi tetap terendah di Kalimantan Timur. Pasar mulai melandai.
Selektif 2026 Pembeli lebih memperhatikan status bebas banjir dan legalitas lahan. Kenaikan tahunan ±7,3%.
Faktor struktural yang bekerja sepanjang periode
Empat gaya menopang harga: status ibu kota provinsi dengan perkantoran gubernur, perbankan, dan rumah sakit rujukan; ekonomi batu bara dan jasa pertambangan yang menjadikan Kalimantan Timur salah satu provinsi berpendapatan per kapita tertinggi di Indonesia; ekonomi kampus Universitas Mulawarman di Gunung Kelua; serta konektivitas — tol ke Balikpapan dan IKN, Bandara APT Pranoto di utara, dan jalur sungai Mahakam.
Penahannya khas: banjir yang berulang di sejumlah kawasan rendah seperti Sempaja dan Air Hitam; lahan bekas tambang yang tidak stabil dan kerap berupa kolam galian; topografi berbukit di bagian utara dan barat yang memerlukan cut-and-fill; serta ketergantungan ekonomi pada siklus harga batu bara.
Catatan untuk penilai
Rentang penawaran di Samarinda sangat lebar dan berlapis menurut ukuran persil. Contoh 2026: lahan ±4.200 m² di Jl. Pahlawan dengan izin komersial ditawarkan Rp113 miliar (±Rp26,9 juta/m²); persil ±3.255 m² di Jl. Ir. H. Juanda dengan lebar depan 40 m ±Rp9,9 juta/m²; lahan ±76.540 m² berkontur di Jl. D.I. Panjaitan–Bukit Alaya Rp8 juta/m² (diiklankan di bawah NJOP Rp11,3 juta/m²); lahan ±16.181 m² di D.I. Panjaitan dekat Citraland Rp5 juta/m²; Jl. Pangeran Suryanata ±Rp6,5 juta/m²; sementara lahan ±3.805 m² di Samarinda Utara hanya ±Rp0,66 juta/m². Periksa selalu status banjir, riwayat penggunaan lahan (bekas tambang atau bukan), kontur, dan lebar muka.
Kurva harga per kelas jalan
Grafik indeks menyamakan titik awal semua koridor pada angka 100 (Agustus 2021). Jalan nasional tumbuh paling cepat karena memuat koridor pinggiran dengan basis rendah — Poros Palaran dan Poros Samarinda–Bontang — yang menangkap limpahan tol dan IKN. Tanah lingkungan tumbuh 8,2% per tahun.
Gambar 2. Indeks rata-rata harga tanah per kelas jalan dan tanah lingkungan, Agustus 2021 = 100. *Agustus 2026 merupakan estimasi.
Gambar 3. Lintasan harga sembilan koridor terpilih, Rp juta/m² tanah pekarangan muka jalan.
Membaca angka pertumbuhan
Tabel berikut merangkum kenaikan rata-rata tahunan seluruh koridor. Pola Samarinda mirip Balikpapan dalam seri ini: dorongan IKN pada 2022–2023, lalu melandai. Bedanya, Samarinda memulai periode dengan tol yang baru tersambung penuh, sehingga dorongan awalnya sedikit lebih merata ke seluruh kota.
Samarinda tidak termasuk kota sampel Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia. Indikator BPS yang paling relevan adalah biaya konstruksi: IKK Samarinda 107,38 poin, artinya membangun di sini sekitar 7% lebih mahal daripada di Surabaya — namun paling murah di Kalimantan Timur. Di provinsi yang PDRB per kapitanya sangat tinggi karena batu bara dan migas — Bontang Rp371 juta, Kutai Timur Rp325 juta, Balikpapan Rp233 juta — Samarinda berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan jasa, bukan pusat produksi. Itulah sebabnya harga tanahnya tinggi di pusat kota tetapi tidak sepanas koridor-koridor yang terhubung langsung dengan IKN di Balikpapan dan Penajam.
Gambar 4. Pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) per koridor, Gambar 5. Tanah lingkungan per kelurahan, Agustus 2021 vs 2021–2026. Agustus 2026.
Tabel perkembangan harga per koridor
Tabel 1 menyajikan estimasi harga tanah pekarangan di muka jalan untuk setiap koridor pada Agustus tiap tahun. Angka tahun-tahun sebelumnya disusun mundur dari estimasi 2026 dengan pola pertumbuhan tahunan yang mencerminkan dorongan tol dan IKN pada 2022–2024.
Agu
| Kode | Koridor / segmen | Kelas | 2021 | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 | 2026* | CAGR |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| N1 | Jl. Pahlawan – Imam Bonjol · Pusat kota (Bugis) | Nasional | 15,0 | 15,9 | 17,6 | 19,2 | 20,7 | 22,0 | 8,0% |
| N2 | Jl. Ir. H. Juanda · Samarinda Ulu – komersial | Nasional | 8,2 | 8,7 | 9,6 | 10,5 | 11,3 | 12,0 | 7,9% |
| N3 | Jl. D.I. Panjaitan · Sungai Pinang – Alaya | Nasional | 5,2 | 5,6 | 6,2 | 6,9 | 7,5 | 8,0 | 9,0% |
| N4 | Jl. Poros Samarinda – Bontang · Lempake – arah Bontang & bandara | Nasional | 1,3 | 1,4 | 1,6 | 1,8 | 2,0 | 2,2 | 11,1% |
| N5 | Jl. Cipto Mangunkusumo · Samarinda Seberang – arah tol | Nasional | 2,4 | 2,6 | 2,9 | 3,2 | 3,5 | 3,8 | 9,6% |
| N6 | Jl. Ir. Sutami · Sungai Kunjang – pergudangan | Nasional | 2,9 | 3,1 | 3,5 | 3,8 | 4,2 | 4,5 | 9,2% |
| N7 | Jl. Poros Palaran – Tol Balsam · Palaran | Nasional | 0,90 | 0,99 | 1,1 | 1,3 | 1,5 | 1,6 | 12,2% |
| P1 | Jl. Gatot Subroto – Antasari · Samarinda Kota – Ulu | Provinsi | 6,8 | 7,2 | 8,0 | 8,7 | 9,4 | 10,0 | 8,0% |
| P2 | Jl. M.T. Haryono · Air Hitam – Air Putih | Provinsi | 6,1 | 6,5 | 7,2 | 7,8 | 8,5 | 9,0 | 8,1% |
| P3 | Jl. Pangeran Suryanata · Bukit Pinang | Provinsi | 4,2 | 4,5 | 5,0 | 5,6 | 6,1 | 6,5 | 9,1% |
| P4 | Jl. Sultan Hasanuddin · Tepian Samarinda Seberang | Provinsi | 2,2 | 2,4 | 2,6 | 2,9 | 3,2 | 3,4 | 9,1% |
| K1 | Jl. Bhayangkara – Mulawarman · Pertokoan inti kota | Kota | 12,3 | 13,1 | 14,4 | 15,7 | 16,9 | 18,0 | 7,9% |
| K2 | Jl. Kusuma Bangsa – Lambung · Samarinda Ilir | Mangkurat Kota | 8,0 | 8,5 | 9,4 | 10,4 | 11,2 | 12,0 | 8,4% |
| K3 | Jl. Pramuka – Unmul · Kawasan kampus | Kota | 4,6 | 4,9 | 5,5 | 6,0 | 6,5 | 7,0 | 8,8% |
| K4 | Jl. Wahid Hasyim · Sempaja | Kota | 3,5 | 3,8 | 4,2 | 4,7 | 5,1 | 5,5 | 9,5% |
| K5 | Jl. Sambutan – Sungai Kapih · Samarinda timur | Kota | 1,1 | 1,1 | 1,3 | 1,5 | 1,7 | 1,8 | 11,4% |
Tabel 1. Estimasi harga tanah pekarangan muka jalan, Rp juta/m², posisi Agustus tiap tahun. CAGR = pertumbuhan majemuk tahunan Agu 2021–Agu 2026. Garis warna di kiri: merah = jalan nasional, kuning = provinsi, biru = jalan kota. *Estimasi.
Mengapa "jalan kota", bukan jalan kabupaten?
Samarinda berstatus kota otonom, sehingga jaringan jalan lokalnya ditetapkan sebagai jalan kota oleh Wali Kota — padanan jalan kabupaten di wilayah kabupaten. Poros menuju Bontang, jalur ke gerbang tol di Palaran, dan koridor utama pusat kota berfungsi sebagai jalan nasional, sementara sejumlah ruas penghubung antarwilayah berstatus jalan provinsi. Status ruas dalam kajian ini bersifat indikatif dan perlu diverifikasi pada keputusan penetapan status ruas jalan terbaru dari Kementerian PU, Gubernur Kalimantan Timur, dan Wali Kota Samarinda.
Estimasi nilai per jalan utama
Estimasi berlaku untuk bidang tanah pekarangan bersertifikat hak milik, luas 200–600 m², lebar muka 10–15 m, tanah matang siap bangun, bebas banjir, kontur relatif datar, serta rata dengan jalan. Rentang menangkap variasi di sepanjang segmen: persil komersial berizin dengan lebar muka besar berada di batas atas; persil di bagian segmen yang rawan genangan atau berkontur berada di batas bawah.
Gambar 6. Rentang dan titik tengah estimasi Agustus 2026 dibanding posisi Agustus 2021.
Cara membaca rentang
Rentang terlebar ada di Jl. Pahlawan (Rp16–32 juta/m²) dan Jl. Bhayangkara–Mulawarman (Rp13–26 juta/m²). Di kawasan ini, izin komersial dan lebar muka menentukan hampir segalanya — persil berizin komersial dengan muka 30 meter bisa dua kali lipat persil hunian di belakangnya. Di koridor pinggiran, status banjir dan kontur menjadi penentu: dua bidang di Poros Samarinda–Bontang bisa berbeda jauh hanya karena satu berada di punggung bukit yang aman dan lainnya di lembah rawan genangan. Titik tengah sebaiknya dipakai sebagai nilai awal, lalu disesuaikan dengan karakter persil (lihat Tabel 4).
Tabel estimasi Agustus 2026 per koridor
Titik
tengah
Jl. Pahlawan – Imam Bonjol Pusat kota, perbankan &
perkantoran Kota
Jl. Ir. H. Juanda
Samarinda Ulu
Jl. D.I. Panjaitan Kawasan Alaya–Citraland, hunian
menengah-atas Pinang
Jl. Ir. Sutami
Sungai Kunjang
Jl. Cipto Mangunkusumo
Samarinda Seberang
Jl. Poros Samarinda – Bontang Jalur ke bandara & Bontang, lahan
luas Kec. Samarinda Utara
Jl. Poros Palaran – Tol Balsam Gerbang Tol Balsam, logistik &
Palaran · Kec. Palaran hunian
Jl. Gatot Subroto – Antasari
Kota
Jl. M.T. Haryono
Ulu
Jl. Pangeran Suryanata
Bukit Pinang · Kec. Samarinda Ulu
Jl. Sultan Hasanuddin
Samarinda Seberang
Jl. Bhayangkara – Mulawarman
Kota
Jl. Kusuma Bangsa – Lambung
Samarinda Ilir · Kec. Samarinda Ilir
Jl. Pramuka – Unmul
Kawasan kampus · Kec. Samarinda Ulu
Jl. Wahid Hasyim
Sempaja · Kec. Samarinda Utara
Jl. Sambutan – Sungai Kapih
Samarinda timur · Kec. Sambutan
Tabel 2. Estimasi nilai pasar indikatif tanah pekarangan muka jalan per Agustus 2026, Rp juta/m². Status jalan bersifat indikatif.
Dari muka jalan ke gang dan bukit
Tabel 3 memberikan estimasi tanah lingkungan per kelurahan beserta rasio terhadap koridor terdekat. Rasio di Samarinda berkisar 1,3–2,0 kali — relatif rendah, karena banyak permukiman berada di jalan lingkungan yang cukup lebar. Yang lebih menentukan justru elevasi: dua bidang di gang yang sama bisa berbeda nilai secara berarti bila satu berada di atas batas banjir dan yang lain di bawahnya.
Agu
2026*
Bugis / Pelabuhan
Tabel 3. Estimasi tanah lingkungan (akses mobil, jalan 4–6 m, bebas banjir), Rp juta/m². Rasio = titik tengah koridor acuan ÷ tanah lingkungan.
Panduan penyesuaian cepat
| Posisi sudut (hook) | +5% s.d. +15% |
|---|---|
| Izin komersial / zona perdagangan dan jasa | +15% s.d. +35% |
| Kawasan langganan banjir | −20% s.d. −40% |
Bekas lahan tambang / timbunan tidak terpadatkan −30% s.d. −60%, kaji geoteknik
| Kontur berbukit, perlu cut & fill | −15% s.d. −35% |
|---|---|
| Lahan luas > 1 hektare (diskon ukuran) | −25% s.d. −50% |
| Hak atas tanah berupa SHGB atau segel | −10% s.d. −30%, kaji kepastian hukumnya |
Tabel 4. Rentang penyesuaian indikatif terhadap objek standar. Besaran akhir harus didukung data pembanding di lokasi serta pemeriksaan status banjir dan riwayat penggunaan lahan.
Prospek 12 bulan ke depan
Dua jalur paling berpeluang melanjutkan pertumbuhan: koridor selatan menuju gerbang tol di Palaran dan Samarinda Seberang yang terhubung ke Balikpapan dan IKN, serta koridor utara menuju Bandara APT Pranoto dan Bontang. Pusat kota diperkirakan bergerak 5–7% per tahun. Skenario dasar kajian ini: kenaikan rata-rata 5–8% untuk Agustus 2027. Risiko ke bawah: perlambatan pembangunan IKN, koreksi harga batu bara, dan kejadian banjir besar; risiko ke atas: pemindahan bertahap aparatur ke IKN yang meningkatkan kebutuhan hunian di kota-kota pendukung.
Bagaimana angka disusun
1. Objek standar Tanah pekarangan bersertifikat hak milik, luas 200–600 m², lebar muka 10–15 m, tanah matang siap bangun, bebas banjir, kontur relatif datar, di dalam wilayah administrasi Kota Samarinda, tanpa bangunan.
2. Triangulasi data 2025–2026
Dua kelompok data utama dipakai: (a) harga penawaran tanah di portal properti dan agen (2025–2026) — jumlahnya ratusan listing — dikoreksi diskon negosiasi 10–20% dan diskon ukuran untuk lahan hektaran; penawaran yang memuat bangunan dikurangi nilai bangunannya; (b) indikator BPS — indeks kemahalan konstruksi dan PDRB per kapita kabupaten/kota di Kalimantan Timur — sebagai konteks biaya bangunan dan struktur ekonomi provinsi.
3. Rekonstruksi 2021–2025
Harga tahun sebelumnya disusun mundur dari estimasi 2026 menggunakan pola pertumbuhan tahunan yang sama untuk seluruh koridor (bobot 16%–25%–23%–20%–16% dari total pertumbuhan logaritmik), mencerminkan dorongan tol dan IKN. Pendekatan ini menghaluskan fluktuasi; kenyataannya tiap koridor bergerak tidak serempak.
4. Klasifikasi jalan
Status nasional, provinsi, dan kota ditulis sebagai indikasi umum dan perlu diverifikasi pada keputusan penetapan status ruas jalan terbaru.
5. Batasan
Tulisan ini adalah materi edukasi dan analisis pasar indikatif, bukan laporan penilaian menurut Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan tidak boleh dipakai sebagai dasar transaksi, agunan, atau perpajakan. Nilai untuk tujuan tersebut memerlukan inspeksi lapangan dan penilaian oleh Penilai Publik/KJPP berizin.
Sumber rujukan
— 99.co, Lamudi, Rumah123, Era Nusa Samarinda, dan Mitula: harga penawaran tanah per kawasan di Kota Samarinda, 2025–2026, termasuk Jl. Pahlawan (Rp113 miliar untuk 4.200 m²), Jl. Ir. H. Juanda (±Rp9,9 juta/m²), Jl. D.I. Panjaitan–Bukit Alaya (Rp8 juta/m², NJOP Rp11,3 juta/m²), dan Jl. Pangeran Suryanata (±Rp6,5 juta/m²).
— BPS melalui Databoks (Juni 2026): indeks kemahalan konstruksi Kota Samarinda 2025 sebesar 107,38 poin — terendah di Kalimantan Timur — dibanding Balikpapan 113,21 dan Mahakam Hulu 139,05 poin.
— BPS melalui Databoks (Agustus 2026): PDRB ADHB per kapita kabupaten/kota di Kalimantan Timur 2025, dengan lima tertinggi Bontang, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Balikpapan, dan Kutai Barat.
Tentang Valuasi Nusantara
Portal edukasi penilaian di Indonesia: properti, bisnis, aktiva tak berwujud, sumber daya alam, dan penilaian untuk tujuan perpajakan. Data dan kertas kerja lain tersedia di Pusat Data valuasinusantara.com. Masukan dan koreksi data pasar dapat dikirim ke valuasinusantara@gmail.com.