Valuasi Nusantara
Portal Keuangan & Penilaian
BI-Rate5,75%19 Agu 2026
SBN 10 tahun7,14%16 Sep 2026
ERP Indonesia6,69%Jan 2026
Inflasi (yoy)3,19%1 Sep 2026
IHSG6.43616 Sep 2026
USD/IDR17.89130 Sep 2026
HBA batu baraUSD 123,5415 Sep 2026
Harga ref. CPOUSD 1.007,511 Sep 2026

Kajian harga tanah

Harga Tanah Cirebon, Kota Udang di Simpang Pantura

Cirebon adalah kota perdagangan tua di pantai utara Jawa — titik temu jalur Jakarta–Semarang, Bandung–Cirebon, dan kini simpul tol yang menghubungkan Cipali, Cisumdawu, dan Pejagan. Wilayah kotanya kecil, sekitar 37 km², sehingga pasar tanahnya padat di pusat dan cepat meluber ke Kabupaten Cirebon di sekelilingnya. Dalam lima tahun terakhir, tanah di koridor jalan utamanya naik rata-rata 52% secar

Terbit 17 September 2026Sekitar 10 menit baca2.249 kataPenulis Redaksi Valuasi Nusantara

Ringkasan eksekutif

Cirebon adalah kota perdagangan tua di pantai utara Jawa — titik temu jalur Jakarta–Semarang, Bandung–Cirebon, dan kini simpul tol yang menghubungkan Cipali, Cisumdawu, dan Pejagan. Wilayah kotanya kecil, sekitar 37 km², sehingga pasar tanahnya padat di pusat dan cepat meluber ke Kabupaten Cirebon di sekelilingnya. Dalam lima tahun terakhir, tanah di koridor jalan utamanya naik rata-rata 52% secara nominal, setara pertumbuhan majemuk ±8,7% per tahun. Dengan PDRB per kapita Rp95,18 juta, Kota Cirebon memiliki daya beli keempat tertinggi di Jawa Barat.

Temuan utama kajian ini:

  • Simpul tol dan bandara menggeser puncak ke 2023–2024. Tersambungnya tol Cisumdawu ke Bandung dan pemindahan sebagian besar penerbangan ke Bandara Kertajati di Majalengka menempatkan Cirebon di tengah segitiga infrastruktur Rebana. Kenaikan tertinggi terjadi satu tahun lebih lambat daripada kebanyakan kota dalam seri ini.
  • Pusat kota mahal, tumbuh paling lambat. Penawaran di Jl. Siliwangi dan Jl. Cipto mencapai Rp17–17,5 juta/m², bahkan ada iklan Rp25 juta/m². Namun kawasan pertokoan lama Kanoman dan Siliwangi tumbuh hanya 6,6–6,7% per tahun.
  • Selatan tumbuh tercepat. Harjamukti di selatan — Argasunya, Kalitanjung, dan sekitar Terminal Harjamukti — masih menyediakan lahan dan kavling perumahan di kisaran Rp2–3 juta/m², dengan kenaikan 10–11% per tahun.
  • Kota kecil, pasar meluber. Karena wilayah kota terbatas, banyak penawaran berlabel "Cirebon" sebenarnya berada di Kabupaten Cirebon — Kedawung, Plumbon, Talun, atau Karyamulya. Penilai perlu memisahkan pembanding kota dan kabupaten.

Lima kecamatan di pesisir utara Jawa

Kota Cirebon terdiri atas lima kecamatan: Kejaksan, Pekalipan, Lemahwungkuk, Kesambi, dan Harjamukti. Kejaksan memuat Balai Kota, Stasiun Cirebon, dan koridor Siliwangi; Pekalipan dan Lemahwungkuk di pesisir memuat kawasan pecinan, pasar lama, keraton-keraton, dan Pelabuhan Cirebon; Kesambi di barat menampung koridor komersial Dr. Cipto dengan pusat perbelanjaan besar serta perumahan menengah-atas; sedangkan Harjamukti di selatan — kecamatan terluas — menampung terminal, kampus, dan perumahan baru.

Gambar 1. Peta skematis sebaran estimasi harga tanah Agustus 2026. Gelembung = koridor muka jalan (kode sesuai Tabel 2); kotak = tanah lingkungan per kelurahan, angka dalam Rp juta/m², skala warna logaritmik. Garis pantai, batas kecamatan, dan jalan digambar ulang secara skematis — bukan peta kadastral atau ZNT resmi.

Tol, bandara, dan Rebana

Perjalanan harga tanah Cirebon 2021–2026 mengikuti tiga babak: tertahan pandemi (2021), pemulihan dan penguatan simpul infrastruktur (2022–2024), lalu pelandaian (2025–2026). Linimasa berikut merangkum peristiwa yang paling berpengaruh.

Tertahan pandemi 2021 Perdagangan, kuliner, dan wisata keraton melambat. Kenaikan harga tanah ±6%.

Pemulihan 2022 Arus kendaraan di jalur Pantura dan tol Cipali kembali normal; pusat perbelanjaan dan kuliner pulih. Kenaikan rata-rata ±9,6%.

Cisumdawu dan Kertajati 2023 Tol Cisumdawu tersambung penuh ke Bandung, dan sebagian besar penerbangan dari Bandung dipindahkan ke Bandara Kertajati. Kawasan Rebana — Cirebon, Patimban, Kertajati — makin sering disebut sebagai kawasan industri baru Jawa Barat. Kenaikan ±10,5%, tertinggi dalam periode ini.

Perluasan ke barat dan selatan 2024 Koridor Tuparev menuju gerbang tol dan kawasan Harjamukti menarik pergudangan dan perumahan. Kenaikan ±9,1%.

Daya beli kuat 2025 PDRB per kapita Kota Cirebon Rp95,18 juta — keempat di Jawa Barat setelah Kota Bandung, Kabupaten Bekasi, dan Karawang. Kenaikan ±8,2%.

Stabil 2026 Pusat kota bergerak moderat; pinggiran selatan dan barat tetap menjadi arah pertumbuhan.

Faktor struktural yang bekerja sepanjang periode

Empat gaya menopang harga: posisi simpul transportasi — Pantura, tol Cipali, Cisumdawu, Palimanan–Kanci, dan Pejagan, stasiun kereta utama, serta pelabuhan; peran kota perdagangan dan jasa bagi wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan); pariwisata budaya — keraton, batik Trusmi, dan kuliner khas; serta daya beli yang tinggi untuk ukuran kota menengah di Jawa Barat.

Penahannya: wilayah kota yang sempit dan padat; kawasan pesisir rendah yang rawan rob dan genangan; pelimpahan permintaan ke kabupaten yang menawarkan lahan lebih luas dan murah; serta ketidakpastian realisasi kawasan industri skala besar di sekitarnya.

Catatan untuk penilai

Pasar Kota Cirebon tebal di pusat dan tipis di pinggiran. Portal properti mencatat harga tengah Kejaksan sekitar Rp4 juta/m². Contoh penawaran 2025–2026: lahan ±925 m² di Jl. Siliwangi Rp17 juta/m²; lahan ±1.000 m² di Jl. Cipto Rp17,5 juta/m²; kavling ±250 m² di kompleks Taman Cipto Rp11 juta/m²; lahan ±3.900 m² di tepi Jl. Yos Sudarso–Bypass Rp7,5 juta/m²; persil ±159 m² berstatus HGB di jalan utama Komplek Puri Taman Sari Rp6 juta/m²; lahan ±2.500 m² di Jl. Kusnan Rp5,5 juta/m²; persil ±260 m² di Simaja Kesambi Rp4,6 juta/m²; lahan ±1.250 m² di Jl. Pramuka Rp2,5 juta/m²; persil ±384 m² di Jl. Samadikun ±Rp2,34 juta/m²; kavling ±120 m² di Montana Village Harjamukti Rp2,5 juta/m²; hingga kavling ±200 m² di Kesambi ±Rp1,5 juta/m². Satu lahan ±1.783 m² di Jl. Siliwangi bahkan diiklankan "harga NJOP" — sinyal bahwa di kota ini NJOP dan harga pasar bisa berdekatan di lokasi premium.

Kurva harga per kelas jalan

Grafik indeks menyamakan titik awal semua koridor pada angka 100 (Agustus 2021). Jalan kota tumbuh paling cepat karena memuat koridor pinggiran selatan — Kalitanjung, Argasunya, dan Samadikun. Jalan nasional dan provinsi, yang memuat koridor inti, bergerak berdekatan. Tanah lingkungan tumbuh sekitar 7,7% per tahun.

Gambar 2. Indeks rata-rata harga tanah per kelas jalan dan tanah lingkungan, Agustus 2021 = 100. *Agustus 2026 merupakan estimasi.

Gambar 3. Lintasan harga sembilan koridor terpilih, Rp juta/m² tanah pekarangan muka jalan.

Membaca angka pertumbuhan

Tabel berikut merangkum kenaikan rata-rata tahunan seluruh koridor. Puncaknya jatuh pada periode Agustus 2023 – Agustus 2024, bertepatan dengan tersambungnya Cisumdawu dan beroperasinya Kertajati secara lebih penuh — satu tahun lebih lambat daripada puncak pemulihan pascapandemi di kebanyakan kota lain.

Kota Cirebon tidak termasuk kota sampel Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia. Indikator BPS menempatkan PDRB per kapita Kota Cirebon Rp95,18 juta pada 2025 — keempat di Jawa Barat, di atas Purwakarta (Rp89,22 juta) dan jauh di atas Kota Bogor (Rp60,7 juta) maupun Kota Bekasi (Rp52,51 juta). Daya beli setinggi itu, di kota dengan wilayah sempit, menjelaskan mengapa koridor intinya bernilai belasan hingga puluhan juta rupiah per meter persegi meski ukuran kotanya jauh di bawah Bandung.

Gambar 4. Pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) per koridor, Gambar 5. Tanah lingkungan per kelurahan, Agustus 2021 vs 2021–2026. Agustus 2026.

Tabel perkembangan harga per koridor

Tabel 1 menyajikan estimasi harga tanah pekarangan di muka jalan untuk setiap koridor pada Agustus tiap tahun. Angka tahun-tahun sebelumnya disusun mundur dari estimasi 2026 dengan pola pertumbuhan tahunan yang mencerminkan pemulihan pascapandemi dan dorongan infrastruktur pada 2023–2024.

Agu

KodeKoridor / segmenKelas202120222023202420252026*CAGR
N1Jl. Siliwangi – Karanggetas · Pusat kota, Balai Kota & PGCNasional13,013,614,615,816,918,06,7%
N2Jl. Yos Sudarso · Pesisir, pelabuhan & perbankanNasional5,55,86,36,97,58,07,8%
N3Jl. Brigjen Dharsono (Bypass) · Lingkar barat–selatan, arah tol & KanciNasional4,24,54,95,56,06,59,1%
N4Jl. Ahmad Yani · Harjamukti, arah KuninganNasional2,93,13,43,84,14,59,2%
N5Jl. Tuparev · Barat, arah Kedawung & PalimananNasional4,64,95,45,96,57,08,8%
P1Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo · Koridor komersial, CSB MallProvinsi11,011,612,613,814,916,07,8%
P2Jl. Kartini – Wahidin · Pusat kota, perkantoranProvinsi8,58,99,610,511,212,07,1%
P3Jl. Kesambi – Pemuda · KesambiProvinsi4,75,05,46,06,57,08,3%
P4Jl. Pramuka – Perjuangan · Majasem, kawasan kampusProvinsi1,92,02,22,52,73,010,2%
K1Jl. Pekiringan – Pasar Kanoman · Pertokoan lama, PekalipanKota8,08,49,09,710,411,06,6%
K2Jl. Kusnan – Sudarsono · KesambiKota3,63,84,24,65,15,58,8%
K3Jl. Pembangunan Raya – Taman Cipto · Hunian menengah-atasKota6,06,46,97,78,39,08,4%
K4Jl. Samadikun · Lemahwungkuk pesisirKota1,92,02,22,52,83,09,6%
K5Jl. Kalitanjung · Harjamukti baratKota1,71,82,02,32,52,810,5%
K6Jl. Kanggraksan – Argasunya · Harjamukti selatanKota0,951,01,11,31,41,611,0%

Tabel 1. Estimasi harga tanah pekarangan muka jalan, Rp juta/m², posisi Agustus tiap tahun. CAGR = pertumbuhan majemuk tahunan Agu 2021–Agu 2026. Garis warna di kiri: merah = jalan nasional, kuning = provinsi, biru = jalan kota. *Estimasi.

Mengapa "jalan kota", bukan jalan kabupaten?

Kota Cirebon berstatus kota otonom, terpisah dari Kabupaten Cirebon yang mengelilinginya. Jaringan jalan lokal di dalam kota karena itu ditetapkan sebagai jalan kota oleh Wali Kota — padanan jalan kabupaten. Jalur Pantura, Jl. Siliwangi, Jl. Yos Sudarso, bypass, dan poros menuju Kuningan serta Palimanan berfungsi sebagai jalan nasional, sementara sejumlah ruas penghubung berstatus jalan provinsi. Status ruas dalam kajian ini bersifat indikatif dan perlu diverifikasi pada keputusan penetapan status ruas jalan terbaru dari Kementerian PU, Gubernur Jawa Barat, dan Wali Kota Cirebon.

Estimasi nilai per jalan utama

Estimasi berlaku untuk bidang tanah pekarangan bersertifikat hak milik, luas 200–600 m², lebar muka 10–15 m, tanah matang siap bangun, bebas banjir dan rob, serta rata dengan jalan. Rentang menangkap variasi di sepanjang segmen: persil komersial dengan lebar muka besar di simpang utama berada di batas atas; persil sempit atau di bagian segmen yang lebih tenang berada di batas bawah.

Gambar 6. Rentang dan titik tengah estimasi Agustus 2026 dibanding posisi Agustus 2021.

Cara membaca rentang

Rentang terlebar ada di Jl. Siliwangi (Rp13–27 juta/m²) dan Jl. Dr. Cipto (Rp12–24 juta/m²). Di kedua koridor ini, persil hadap jalan di dekat pusat perbelanjaan atau simpang utama bisa dua kali lipat persil yang sedikit menjorok ke dalam. Di pesisir, penentunya elevasi terhadap genangan rob; di Harjamukti, kematangan lahan dan jarak ke jalan utama. Titik tengah sebaiknya dipakai sebagai nilai awal, lalu disesuaikan dengan karakter persil (lihat Tabel 4).

Tabel estimasi Agustus 2026 per koridor

Titik

tengah

Jl. Siliwangi – Karanggetas

Kejaksan

Jl. Yos Sudarso

Lemahwungkuk

Jl. Tuparev

Kec. Kesambi

Jl. Brigjen Dharsono (Bypass)

· Kec. Harjamukti

Jl. Ahmad Yani

Harjamukti

Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo

Kesambi

Jl. Kartini – Wahidin

Pusat kota, perkantoran · Kec. Kejaksan

Jl. Kesambi – Pemuda

Kesambi · Kec. Kesambi

Jl. Pramuka – Perjuangan

Kesambi

Jl. Pekiringan – Pasar Kanoman

Pekalipan

Jl. Pembangunan Raya – Taman Cipto Taman Cipto, hunian

Hunian menengah-atas · Kec. Kesambi menengah-atas

Jl. Kusnan – Sudarsono

Kesambi · Kec. Kesambi

Jl. Samadikun

Lemahwungkuk

Jl. Kalitanjung

Harjamukti barat · Kec. Harjamukti

Jl. Kanggraksan – Argasunya Harjamukti selatan, lahan &

Harjamukti selatan · Kec. Harjamukti perumahan

Tabel 2. Estimasi nilai pasar indikatif tanah pekarangan muka jalan per Agustus 2026, Rp juta/m². Status jalan bersifat indikatif.

Dari muka jalan ke gang dan kampung

Tabel 3 memberikan estimasi tanah lingkungan per kelurahan beserta rasio terhadap koridor terdekat. Rasio di Kota Cirebon berkisar 1,4–2,9 kali. Kawasan pecinan dan pasar lama di Pekalipan mempertahankan harga tinggi hingga ke dalam gang, sementara di Harjamukti selatan tanah lingkungan masih di bawah Rp2 juta per m².

Agu

2026*

K3 · Pembangunan Raya – Taman

Cipto

K3 · Pembangunan Raya – Taman

Cipto

Tabel 3. Estimasi tanah lingkungan (akses mobil, jalan 4–6 m), Rp juta/m². Rasio = titik tengah koridor acuan ÷ tanah lingkungan.

Panduan penyesuaian cepat

Posisi sudut (hook)+5% s.d. +15%
Pesisir rendah, rawan rob / genangan−15% s.d. −35%
Kawasan cagar budaya (sekitar keraton)−10% s.d. −25% untuk nilai komersial
Akses gang < 4 m−25% s.d. −45%
Lahan luas > 2.000 m² (diskon ukuran)−15% s.d. −35%

Kavling tengah sawah, jalan harus diurug sendiri −30% s.d. −50%

Alas hak HGB (bisa ditingkatkan ke SHM) −5% s.d. −10%

Tabel 4. Rentang penyesuaian indikatif terhadap objek standar. Besaran akhir harus didukung data pembanding di lokasi.

Prospek 12 bulan ke depan

Pertumbuhan diperkirakan tetap terkonsentrasi di Harjamukti — kawasan terluas yang masih menyediakan lahan — dan di koridor barat menuju gerbang tol. Pusat kota diperkirakan bergerak 5–7% per tahun. Skenario dasar kajian ini: kenaikan rata-rata 6–8% untuk Agustus 2027. Risiko ke bawah: limpahan permintaan ke Kabupaten Cirebon dan perlambatan realisasi kawasan industri; risiko ke atas: pengembangan kawasan Rebana, penguatan Bandara Kertajati, dan Pelabuhan Patimban di sebelah barat.

Bagaimana angka disusun

1. Objek standar Tanah pekarangan bersertifikat hak milik, luas 200–600 m², lebar muka 10–15 m, tanah matang siap bangun, bebas banjir dan rob, di dalam wilayah administrasi Kota Cirebon (bukan Kabupaten Cirebon), tanpa bangunan.

2. Triangulasi data 2025–2026

Dua kelompok data utama dipakai: (a) harga penawaran tanah di portal properti dan agen (2025–2026), disaring untuk mengeluarkan objek di Kabupaten Cirebon, lalu dikoreksi diskon negosiasi 10–20% dan diskon ukuran; (b) harga tengah per kecamatan dari portal properti serta indikator BPS — PDRB per kapita kabupaten/kota di Jawa Barat — sebagai pemeriksaan silang.

3. Rekonstruksi 2021–2025

Harga tahun sebelumnya disusun mundur dari estimasi 2026 menggunakan pola pertumbuhan tahunan yang sama untuk seluruh koridor (bobot 14%–22%–24%–21%–19% dari total pertumbuhan logaritmik), mencerminkan dorongan infrastruktur pada 2023–2024. Pendekatan ini menghaluskan fluktuasi; kenyataannya tiap koridor bergerak tidak serempak.

4. Klasifikasi jalan

Status nasional, provinsi, dan kota ditulis sebagai indikasi umum dan perlu diverifikasi pada keputusan penetapan status ruas jalan terbaru.

5. Batasan

Tulisan ini adalah materi edukasi dan analisis pasar indikatif, bukan laporan penilaian menurut Standar Penilaian Indonesia (SPI) dan tidak boleh dipakai sebagai dasar transaksi, agunan, atau perpajakan. Nilai untuk tujuan tersebut memerlukan inspeksi lapangan dan penilaian oleh Penilai Publik/KJPP berizin.

Sumber rujukan

— Realoka, 99.co, Rumah123, Lamudi, dan Waa2: penawaran tanah di Kota Cirebon, 2025–2026, termasuk Jl. Siliwangi (Rp17 juta/m²), Jl. Cipto (Rp17,5 juta/m²), Taman Cipto (Rp11 juta/m²), Jl. Yos Sudarso–Bypass (Rp7,5 juta/m²), Jl. Kusnan (Rp5,5 juta/m²), Simaja Kesambi (Rp4,6 juta/m²), Jl. Pramuka dan Montana Village (Rp2,5 juta/m²).

— Rumah123: harga tengah penawaran tanah di Kejaksan sekitar Rp4 juta/m².

— BPS melalui Databoks (Juli 2026): PDRB ADHB per kapita Kota Cirebon 2025 sebesar Rp95,18 juta, keempat di Jawa Barat.

Tentang Valuasi Nusantara

Portal edukasi penilaian di Indonesia: properti, bisnis, aktiva tak berwujud, sumber daya alam, dan penilaian untuk tujuan perpajakan. Data dan kertas kerja lain tersedia di Pusat Data valuasinusantara.com. Masukan dan koreksi data pasar dapat dikirim ke valuasinusantara@gmail.com.